PRAHARA SUMBI
Oleh Hermana HMT
Dayang Sumbi adalah putri raja yang cantik jelita. Ia memiliki suami seekor anjing bernama Tumang, penjelmaan dari seorang dewa. Dari hasil perkawinan mereka terlahirlah sorang anak lelaki tampan bernama Sangkuriang. Walau mereka terasing dari keluarga kerajaan dan harus tinggal jauh di tengah hutan, namun hidup mereka rukun dan bahagia.
Dayang Sumbi adalah putri raja yang cantik jelita. Ia memiliki suami seekor anjing bernama Tumang, penjelmaan dari seorang dewa. Dari hasil perkawinan mereka terlahirlah sorang anak lelaki tampan bernama Sangkuriang. Walau mereka terasing dari keluarga kerajaan dan harus tinggal jauh di tengah hutan, namun hidup mereka rukun dan bahagia. Suatu waktu Dayang Sumbi ingin sekali menikmati daging manjangan dan memohon pada Sangkuriang untuk berburu. Bersama Tumang, Sangkuriang segera melaksanakan titah sang bunda. Tapi Pemburuan sulit mendapatkan hasil. Tidak seekor manjangan Sangkuriang temukan di tengah hutan belantara itu. Namun, atas dorongan cinta kasih pada sang bunda, tak sedikitpun terbersit di pikiran Sangkuriang untuk menghentikan pemburuannya. Sehingga suatu ketika ia menemukan seekor manjangan melintas dan masuk pada semak-semak hutan. Sangkuriang segera memerintahkan Tumang untuk memburunya, tapi Tumang malah berdiam diri. Sangkuriang marah, lalu mengejar sendiri buruannya. Tetapi menjangan yang dikejarnya sudah pergi jauh ke dalam hutan dan tidak dapat ditangkap. Kemarahan Sangkuring semakin memuncak dan tanpa berpikir panjang ia panah tubuh Tumang. Ajing yang senantiasa menemaninya kemanapun pergi, akhirnya mati oleh tangan Sangkuriang sendiri, dan hatinya segara ia persembahkan pada Dayang Sumbi.
Mengetahui yang dibawa Sangkuriang adalah hati si Tumang, Dayang Sumbi marah besar dan
mengusir Sangkuriang. Sangkuriang pun pergi berkelana di hutan belantar dan bersahabat dengan para siluman penguasa hutan. Menginjak dewasa, Sangkuriang bertemu lagi dengan Dayang Sumbi yang masih tetap cantik jelita. Sangkuriang tidak ingat lagi bahwa wanita berparas cantik itu adalah ibunya. Ia jatuh cinta padanya dan ingin segera mengawininya. Dayang Sumbi menolak keinginan Sangkuriang karena ia tahu bahwa Sangkuriang adalah anaknya. Namun Sangkuriang tak bergeming sedikitpun atas alasan Dayang Sumbi dan ia tetap ingin menikahinya. Maka dengan berat hati Dayang Sumbi menerima lamaran Sangkuriang dengan syarat dibuatkan sebuah danau dan sebuah perahu dalam waktu satu malam. Namun atas kuasa Tuhan, Sangkuriang gagal memenuhi syarat yang diberikan Dayang Sumbi, dan akhirnya perahu yang belum selesai dibuat, ditendang Sangkuriang. Perahu tersebut jatuh tertelungkup dan akhirnya membentuk sebuah gunung berbentuk perahu nangkub (terbalik) yang kemudian hari bernama Gunung Tangkuban Perahu.
Kisah legenda Bandung ini ditampil dalam sebuah pertunjukan teater berjudul Prahara Sumbi, arahan sutradara Giri Mustika, produksi ke 10 Toenil Bandung (pemenang Festival Drama Sunda se Jawa Barat 2006), di Gedung Kesenian Rumentangsiang jalan Baranangsiang No. 1 Bandung, tanggal 4 Mei 2007 pukul 10.00 WIB, 14.00 WIB dan 19.30 WIB. Pertunjukan tersebut merupakan adaptasi dari judul cerita Sangkuriang karya Utuy Tatang Sontani dan didukung oleh aktor-aktor muda berbakat di kota Bandung.
Mengetahui yang dibawa Sangkuriang adalah hati si Tumang, Dayang Sumbi marah besar dan
mengusir Sangkuriang. Sangkuriang pun pergi berkelana di hutan belantar dan bersahabat dengan para siluman penguasa hutan. Menginjak dewasa, Sangkuriang bertemu lagi dengan Dayang Sumbi yang masih tetap cantik jelita. Sangkuriang tidak ingat lagi bahwa wanita berparas cantik itu adalah ibunya. Ia jatuh cinta padanya dan ingin segera mengawininya. Dayang Sumbi menolak keinginan Sangkuriang karena ia tahu bahwa Sangkuriang adalah anaknya. Namun Sangkuriang tak bergeming sedikitpun atas alasan Dayang Sumbi dan ia tetap ingin menikahinya. Maka dengan berat hati Dayang Sumbi menerima lamaran Sangkuriang dengan syarat dibuatkan sebuah danau dan sebuah perahu dalam waktu satu malam. Namun atas kuasa Tuhan, Sangkuriang gagal memenuhi syarat yang diberikan Dayang Sumbi, dan akhirnya perahu yang belum selesai dibuat, ditendang Sangkuriang. Perahu tersebut jatuh tertelungkup dan akhirnya membentuk sebuah gunung berbentuk perahu nangkub (terbalik) yang kemudian hari bernama Gunung Tangkuban Perahu.Kisah legenda Bandung ini ditampil dalam sebuah pertunjukan teater berjudul Prahara Sumbi, arahan sutradara Giri Mustika, produksi ke 10 Toenil Bandung (pemenang Festival Drama Sunda se Jawa Barat 2006), di Gedung Kesenian Rumentangsiang jalan Baranangsiang No. 1 Bandung, tanggal 4 Mei 2007 pukul 10.00 WIB, 14.00 WIB dan 19.30 WIB. Pertunjukan tersebut merupakan adaptasi dari judul cerita Sangkuriang karya Utuy Tatang Sontani dan didukung oleh aktor-aktor muda berbakat di kota Bandung.
| < Prev | Next > |
|---|
