Misteri Gedong Sate
| Article Index |
|---|
| Misteri Gedong Sate |
| Page 2 |
| Page 3 |
| Page 4 |
Page 3 of 4
Arsitektur Bangunan Gedong Sate
Memang benar dan tidak mengada-ada, bila Tuan D. Ruhl menyatakan dalam buku "Bandoeng en hoar Hoogvlakte" (1952) bahwa, Gedong Sate adalah "Het mooiste gebouw van Indonesie" (Bangunan terindah di Indonesia). Bahkan master arsitek Belanda, Dr. H. P. Berlage menyebut rancangan kompleks Gouvemementsbedryven (G.B) alias Gedong Sate sekarang, sebagai suatu karya arsitektur yang besar.
"Gedung ini mengingatkan pada gaya arsitektur Italia di masa renaissance, terutama bangunan sayap barat. Sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan, mirip atap meru atau pagoda. Ungkapan arsitektur yang berhasil memadukan (sintesa) langgam Timur dan Barat secara harmonis", komentar Berlage, sewaktu is meninjau Gedong Sate di bulan April 1923.
"Bangunan Gedong Sate tergolong karya arsitektur yang utuh dan khas", kata arsitek Slamet Wirasonjaya. Gaya arsitektur bangunan ini bukan eklitis (gaya campuran), seperti bangunan Capitol Hill di Washington, kata Pak Slamet pula.
Pokoknya, Gedong Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona, serta memiliki gaya arsitektur yang unik, ungkap Cor Passchier dan Jan Wittenberg, dua arsitek Belanda yang lagi tekun mendaftar bangunan kolonial di Kota Bandung.
Menurut mereka, langgam arsitektur Gedong Sate, merupakan gaya eksperimen dari Sang Arsitek yang mengarah kepada bentuk Indo-Europeeschen architectuur stet ("Gaya Arsitektur Indo Eropa").
Masih menurut Slamet Wirasonjaya, agaknya bangunan pertama di Kota Bandung yang menggunakan beton bertulang, adalah gedung Javasche Bank ("B.I") di Jl. Braga. Jadi bukan bangunan Gedong Sate yang peletakan batu pertamanya jatuh pada tanggal 27 Juli 1920.
Beberapa catatan menunjukkan, bahwa konstruksi beton bertulang bare mulai digunakan di Indonesia sekitar tahun 1925. Sedangkan di Kota Bandung barn lazim digunakan setelah tahun 1930-an. Sedangkan jembatan beton bertulang yang pertama di Bandung, terletak di Jl. ABC, membentang di atas Sungai Cikapundung (lihat Majalah, "Locale Techniek", 1938). Hampir semua jembatan beton di atas Cikapundung, dibangun setelah tahun 1930.
Sebagaimana dinyatakan oleh arsitek Cor Passchier, gaya arsitektur Gedong Sate merupakan pencarian bentuk atau langgam baru yang memadukan wajah Timur dan Barat, ditopang teknik konstruksi yang maju dari Negeri Barat. Jadi tidak mustahil bahwa keanggunan Candi Borobudur ikut mewarnai Gedong Sate.
Adapun kepingan-kepingan batu ukuran besar, diambil dari perbukitan Arca Manik. Diusung lewat "kereta gantung" (cable car) yang menuruni perbukitan Bandung Utara, sampai ke lokasi pembangunan. Di zaman Jepang beberapa menara baja, sisa lintasan cable car ini masih dapat ditemui di daerah Sadangserang.
Menurut penuturan Pak Sutarya Abdulgani, pribumi ash daerah Simpang Dago; kuli penggarap pembangunan Gedong Sate, sebagian terdiri dari orang-orang Cina, para pengukir dan pemahat bongpay (batu nisan) dari Hongkong. Selebihnya, adalah tukang batu, kuli aduk dan peladen dari kampung Sekeloa, Coblong, Dago, Gandok dan Ciba-rengkok. Mereka adalah para pekerja bangunan yang berpengalaman menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Balai Kota). Sampai kini, penduduk kawasan Bandung Utara tersebut, turun temurun secara tradisional menjadi tukang tembok, tukang kayu dan pekerja bangunan yang trampil.
temuan barn Ir. Ben van Leerdam dari turnpukan arsip surat korespondensi mendiang l Ir. Maclaine Pont (arsitek perancang bangunan induk Kampus ITB) menunjukkan, bahwa seorang arsitek berinisial "G" di Bandung, telah lama menjalin hubungan konsultasi tentang artsitektur.
Besar kemungkinan, bahwa arsitek berinisial "G" adalah Ir.J.Gerber. Yang pada awal kedatangannya di Nusantara ini, lagi asyik dan tekun mencari gaya dan bentuk arsitektur yang konstektual, cocok dan serasi dengan lingkungan (Indonesia) yang beriklim tropis.
Sebagaimana diketahui, Ir. Maclaine Pont yang kritis terhadap kebijakan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, tercatat bersama Ir. Thomas Karsten, sebagai pelopor aliran gaya arsitektur Indo Eropa yang unik itu. Dan Ir. J. Gerber adalah arsitek yang termasuk dalam kubu Maclaine Pont.
Karya arsitektur J. Gerber di Surabaya, dalam bentuk bangunan sekolah HBS (kini SMAN I Jl. Wijayakusuma), memperlihatkan persamaan dengan gaya bangunan Gedong Sate. Hal ini membuktikan bahwa ide rancangan Gedong Sate, secara dominan merupakan kreasi J. Gerber.
Adapun kemiripan bentuk pagoda Siam pada lempeng batu di atas pintu masuk Gedong Sate, semata-mata cuma hiasan yang distylisasi dari bentuk gerbang Candi Hindu di Jawa, dengan alas pancaran sinar mentari yang lagi jadi mode di zaman itu. Jadi tak ada hubungan dengan bentuk pagoda di negeri Siam.
Adapun tentang pendapat warga Austria yang mengaku bahwa Gedong Sate adalah karya arsitektur bangsanya, maka sebaiknya dikonfirmasikan kepada yang bersangkutan!
Namun yang jelas, Gedong Sate kini merupakan "ciri" clan "simbol" daerah Jawa Barat, di samping sebagai land mark wilayah Kota Bandung. Selain sebagai tontonan wisata, setiap hari Minggu pasangan pengantin barn, berfoto ria di tempat itu.
| Next > |
|---|
